Search This Blog

Thursday, 27 October 2016

Filosofi Hidup Pohon Daun Pandan

Jalani Kehidupan dengan Bahagia

Kitabahagia.com- Tidak ada orang yang tidak menginginkan kebahagiaan, mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Semua menginginkan kebahagiaan. Tetapi, kebahagiaan itu bukanlah barang yang kita beli di swalayan baik spesial edisi maupun harga obral. Sungguh, jika kebahagiaan bisa dibeli dan dipilih di etalase toko. Pasti, menyenangkan dan bahagia sekali rasanya.


Sayangnya, untuk mencapai kebahagiaan dibutuhkan proses panjang. Semuanya berjalan dengan sangat baik, pada akhirnya. Nah, postingan Kamis kali ini membahas mngenai filosofi kehidupan. Wow, topik berat diakhir bulan Oktober. Sebenarnya, sederhana saja dan melihat dari keseharian.

pohon pandan, wanginya butuh proses. sp:bibittanaman.com
Beberapa bulan lalu, ibu menanam tanaman daun pandan. Awal mula menanam, tumbuhan itu sangat kecil dan setelah bertumbuh, mama mulai menggunakan daun pandan tersebut. Pertama kali menggunakannya, tidak ada aroma daun pandan, kedua hingga kelima. Kemudian, karena sering dipetik, dipotong untuk dimasak. Akhirnya, daun pandan itu saat dimasak beraroma wangi. Wanginya masih tidak tajam, setidaknya sudah mulai tercium.

Berminggu-minggu setelahnya, setiap masak kolak, atau terkadang nasi yang dikukus, ibu suka memasukan daun pandan. Wanginya sungguh menyenangkan dan membuat rasa lapar atau tergoda untuk menyantapnya.

Beberapa waktu lalu, aku melihat tanaman daun pandan yang bukan hasil tanaman ibuku. Milik tetangga jauh, aku mencoba untuk memetik dan merebusnya. Tidak tercium aroma wangi daun pandan. Padahal, tanaman daun pandan itu tumbuh subur, tinggi dan lebat. Namun, tidak tercium aroma wangi.



Filosofi KIBA: Terkadang dibutuhkan rasa sakit, perjuangan untuk mencapai titik kebahagiaan. Maupun keharuman. Karena semua itu adalah proses panjang dan sukar. Namun hasilnya, sudah pasti terlihat jelas cepat atau lambat.

daun pandan yang sudah melewati proses, sp: We Heart It
Tanaman daun pandan itu melewati proses yang panjang agar bisa tercium wanginya. Ia harus rela disakiti, disobek, dicabut daun-daunnya agar daun yang berikutnya tumbuh bisa lebih wangi dan harum. Jika tidak melewati proses seperti itu, maka daun pandan itu tidak memiliki arti bagi jurumasak.

Sama seperti kita hidup, terkadang kita harus rela melewati proses yang menyakitkan untuk mengetahui makna kebahagiaan dalam diri kita. Benar tidak temans? Kalau menurutmu bagaimana?

Jangan pelit komen dong dengan berbagi opini temans terkait kebahagiaan dalam filosifi teman. Mari kita, saling menguatkan dan berbagi untuk merasakan kebahagiaan.

Salam Bahagia
 



6 comments:

  1. Waaah, filosofinya ngena banget

    ReplyDelete
  2. Terimakasih Kang Alee bersedia mampir ke rumah mungilku dan meninggalkan jejak manis

    ReplyDelete
  3. Waah...baru tahu bhw daun pandan itu tdk wangi 'dari sononya'.. Hanya yg sering dipetik yg wangi.. Trmksh jg filosofi kerennya..
    Salam kenal, mb Citra..

    ReplyDelete
  4. iya mbak, entahlah, aku juga baru tahu kalau daun pandan juga banyak jenisnya.... mungkin jenis yang di rumah seperti itu

    ReplyDelete
  5. wahh...baguss banget filosofinya...yang ada di pikiran setelah mendengar pandan adalah..wangi nyaaa....hheheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi benar mas yuli... awalnya aku juga berpikir seperti itu... tapi karena melihat proses di rumah. Jadi kepikiran juga bisa dijadikan filosofi sederhana

      Delete

Hi Terimakasih Sudah bersedia mampir di Kitabahagia.com Tinggalkanlah jejak manis agar kiba bisa berkunjung balik. Asalkan jangan memberikan link hidup dan spam ya... Salam Bahagia


Follow by Email

Teman yang Bahagia

Google+ Followers

Subscribe